Minggu, 15 Januari 2012

Liburan ++

Maaf, posting ini adalah pembetulan dari posting sebelumnya. Tapi posting keduanya memang benar-benar terjadi dan silahkan memulai membaca kelanjutannya.

Ini adalah liburan yang tidak akan pernah terjadi lagi. Meski terlambat, tapi cukup lah untuk sejenak merasakan apa itu liburan. Anggap ini adalah hari dimana liburan selama 2 minggu di-convert menjadi 1 hari. Tidak ke luar provinsi, tidak ke luar negeri dan tidak ke luar dunia. Tetap berada dalam jangkauan mobil avanza.

Goes to Jember.

Mungkin memang terlalu jauh untuk berangkat dengan berjalan kaki, namun sedikit mual jika menaiki mobil. Apalagi bagi saya yang jarang naik mobil. 

AC : Off

Rencananya hari ini kita berangkat jam 5 pagi. Tapi apa daya kita bangun kesiangan, walau tidak terlalu siang. Kondisi ini diperparah saat Abi dan Wafi ternyata memulai hari dengan bersepeda dan pulang jam 7 pagi. Molor. 

Setelah kedatangan mereka saya nanti, mereka pun datang. Saya pikir mereka pulang dengan bermobil, tetapi tetap saja bersepeda. Oh. Ribet mengurus keperluan apa saja yang akan kita bawa. Semua siap, Abi ambil mobil. Bukan di bengkel, bukan dimana, tapi di tempat penyewaan mobil. Maklum kita belum sempat beli Betley. Skip.

Molor, molor, dan molor akhirnya kita berangkat jam 10 pagi. Ini benar-benar tidak wajar, bisa dibilang rencana kita hancur total. Dari rencana jam 5, tapi eksekusi jam 10. Alokasi waktu yang brutal.

Di dalam mobil, kita bingung, mau kemana dulu. Karena dari dalam pikiran saya, yang penting ke Jember. Dan setelah itu tidak tahu harus kemana. Beradu, beradu dan beradu, destinasi pertama kita pilih Alfamart. Karena memang kita butuh air soda untuk mengeluarkan udara dalam tubuh ini. Kita mabuk darat.

Belanjaan pertama sudah mulai menguras dompet... Abi. Maklum saya juga belum sarapan, jadinya beli beberapa potong roti untuk dikonsumsi bersama. Bukannya memperbaiki suasana, kepala jadi pening hebat. Dan saya putuskan untuk minum tolak bala, eh?, tolak angin. Ahh, memang lebih baik.

Beberapa kilometer dari alfamart, mobil tiba-tiba diberhentikan, parkir di depan sebuah bengkel mobil. Mungkin isi ulang oli (semacam isi pulsa), tapi tidak, ternyata Abi beli garpu sepeda. Mmm. Saya tidak pernah tahu organ-oragan sepeda apa saja yang mereka butuhkan secara pasti.

Setelah semua garpu dan sendok masuk dalam mobil. Kita melanjutkan perjalanan (semacam mendaki gunung).

Karena destinasi pertama sudah cukup sukses membawa duit kita keluar dompet, kita coba memancing duit yang lain dengan destinasi kedua. Kejadiannya sama, kita bingung mau kemana lagi (padahal nggak kemana-kemana) (Plis, Ayu Ting-Ting jangan nongol). Di atas jalan aspal yang padat lalu lintas, Ufa pun menuruti keinginan saya untuk langsung menuju Gramedia.

Dan diingat-ingat, terakhir saya menginjakkan kaki di Gramedia Jember adalah kelas 2 SMP. Wow! Sudah hampir menjegal 2 tahun. Saya kan anak rumahan (bertelor).

Suasananya tidak jauh berbeda, alat tulis-menulis berada di lantai satu dan buku-buku tersusun apik di lantai dua. Di deretan anak tangganya juga masih terpampang poster-poster yang saya lupa apa judulnya.

Dengan pede sepakdenya, saya langsung terbang ke lantai atas. Anggap saja saya sudah terlalu sering kesini.

Keliling-keliling dari rak agama, psikologi, komik, kamus, keterampilan, gadget sampai novel sastra saya jabanin. Tidak jauh dengan kegiatan emak-emak (shopping). Kaki pegel, kebelet kencing, bikin ribet. Lupa bawa jaket, hidung juga mulai meler. Orang rumah kampungan macam apa saya ini!

Yang ada di pikiran saya: cari buku yang sampulnya bagus dan banyak bergelimpangan warna, setelah itu tunjuk-tunjuk potongan cerita yang ada di sampul belakang (saya lupa disebut apa), tidak menarik berarti harus mengembalikan dengan raut wajah menimbang-nimbang, menarik berarti harus lihat harga; jika murah saya bawa, jika mahal saya taruh.

Dari semua rak, saya tertarik dengan rak novel dan sastra. Ada 3-4 buku di tangan yang tentu saja tidak akan saya beli semua. Dari buku-buku itu, saya seleksi dengan ketat dan jadilah 2 buku di tangan. Tangan kanan 1 dan tangan kiri 1 (membuat seolah-olah simetris).

Humming bird (historical romance, gak tahu apa) dan 99 Cahaya di Langit Eropa (karya: Hanum Rais, anak dari Amin Rais)

Ufa seakan tidak mau kalah, dia mencari-cari buku dengan prosedur yang tidak jauh berbeda dari apa yang ada dalam pikiran saya. 1 buku dia bawa ke meja kasir.

Dari 3 buku yang akan kami beli, saya minta 200 ribu ke Abi. Mungkin memintanya agak kurang ajar: "Bi, 200 ribu, kembali kok."

3 buku sudah ada dalam tas plastik. Saya turun dan tiba-tiba terngiang-ngiang suara Lina yang meminta dibelikan tas kado. Keluar dari Gramedia, saya pun mengeluarkan mangkok saya dan mengenakan baju gembel, "Pak, belum sarapan, Pak. Pizza, Bu. Nasi Goreng, Mas." Skip.

Karena keasikan berkeliling-keliling, saya melupakan apa itu kencing. Dengan sedikit tergopoh-gopoh menahan kandung kemih agar tetap utuh, saya cari penawarnya, toilet. Entah kenapa, rasanya terlalu berat bagi saya memohon untuk pergi ke toilet. Saya ganti permohonan itu dengan memohon pergi ke mushola.

Di mushola ukuran 10 x 10 meter dan berlantai dua itu, saya kucurkan beberapa liter air. Yang ada di dalam kandung kemih saya hanya perasaan bangga dan lega.

Dengan ini, saya siap menyusuri destinasi selanjutnya.

Tidak jauh dari mushola itu, berdirilah sebuah Department Store, Matahari Jember. Sedikit bernostalgia karena saya juga sudah lama tidak mengendus bebauan AC di dalamnya. Penampakannya juga tetap sama. Tidak jauh berbeda. Eskalator yang mati juga tetap ada.

Masuk dengan tanpa salam dan permisi, melewati stand-stand yang bergerai elok di samping kanan-kiri, mulai sepatu hingga 'organ pedalaman' diri.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju lantai atas. Melihat pemandangan yang seakan lebih 'kaya'. Berdiri tegap bersama Ufa di atas sebuah eskalator.

Setibanya di atas, saya langsung disambut penampakan yang tidak biasa saya temui di toko obat (karena memang lantai dua adalah tempat pepakaian). Keliling-keliling lagi seakan membawa seember duit. Mengantarkan sang adik menemui jodohnya dalam bentuk pakaian siap pakai.

Tidak ingin kalah, saya juga ingin mencari-cari sesuatu yang sudah saya sesuatukan. Cari celana tiga per empat (mulai), saya lihat dan saya paskan dengan ketinggian kaki saya, sepertinya cocok. Saya lihat bar code yang diselingi harga satu potongnya, sepertinya tidak cocok dengan ekonomi saya.

Saya melemas dan mencari pojokan untuk melampiaskan kegelisahan dan kekecewaan hati ini.

Beralih ke Abi, nampaknya Abi tertarik untuk membeli seikat kemeja warna biru. Ya mungkin sangat cocok untuk selera Abi yang tahu sendiri lah.

Ufa dan Abi sudah dapat. Wafi pun iri. Akhirnya kita coba cari rak baju yang sekiranya sedang diskon. Benar saja, di atas sebuah rak jauh dari pandangan namun dekat dengan eskalator tertulis "Buy One, Get One."

Oh, ini kenikmatan dunia. Rencananya kita membeli satu ikat dengan harga yang paling rendah, sedangkan ingin memperoleh sejumput pakaian dengan harga paling tinggi. Dengan optimis, saya coba tanyakan kepada tante-tante penjaga stand ini. Dan dia bersabdah, "Ini nanti kalau mau bayar pake harga yang tinggi, bukan yang rendah." Jeglek, jantung patah.

Lupakan.

Karena kaki mulai terpisah dengan persendian, kita beralih untuk pulang. Di lantai satu ternyata ada food court, di sana berjajar buah-buah nun cantik dengan harga yang cukup 'perkasa'. Kita cium wewangian terindah yang bukan wangi parfum orang. Dan pilihan hidung tertuju pada segelontor durian montong seberat 3 kg. Ini baru surga dunia yang sebenarnya!

Kita timbang dan jadilah beberapa ratus ribu kita keluarkan. Dengan berberat-berat buah tangan, saya keluar dan menyetorkan raja buah ini untuk dibayar.

Tak jauh dari itu, Abi rupanya sedang asik menjadi SPM (Sales Promotion Man) di sebuah stand sepeda Polygon. Oh, baguslah mungkin nanti manager Polygon akan mentraktir kita sebakul durian medan.

Hujan pun turun dengan kompak di depan Matahari. Saya pikir saat hujan turun, itu artinya Matahari tidak ada. Tapi ini tidak. Sepertinya global warming telah sukses mengadakan Matahari dalam hujan.

Hujan datang, perut lapar. Kita mampir ke sebuah kedai bakso yang mantab parah. Dengan jajaran belanjaan yang berpose emosional di tangan masing-masing, kita masuk dengan compang-camping. Memesan 4 mangkok bakso, 4 mangkok lontong, 4 gelas es jeruk dan 2 sendok. Sendok itu kita pergunakan untuk menyerok es krim yang kita beli secara berpotongan harga.

Sekeluarnya dari itu, kita bertambah berat badan menjadi 2 kilo dari semula. Ini keren.

Kenyang seragam.

Sesampainya di rumah, kita buka lebar-lebar durian, kita masukkan ke dalam tupperware dan kita nikmati dengan irit hingga 3 hari.

Bersabarlah saat hiburan datang terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar