Tampilkan postingan dengan label Problema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Problema. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Ku akan tua dan mati dalam pelukmu

Minggu ini mungkin minggu paling galau se-Tukum dan sekitarnya. Mungki lebih tepatnya di sekitar hati, otak dan pikiran ku. Dimulai dari pengorbanan yang nampaknya tidak terlalu berharga walau sangat susah untuk mengupayakannnya. Semua hanya didasari dengan keinginan melihat dan lebih dekat.

Malam itu, malam menjelang isya'. Di sana masih ada seorang yang menunggu pesanannya tiba, yaitu aku, sekantong molen pisang asli kota yang mungkin bisa ku bawa dan ku beri.

Seusainya dari kedai di depan panti asuhan itu, ku bergegas menghilangkan bayanganku untuk menuju sekolah. Dua orang kawan akrabku menunggu lama, mungkin sudah setengah jam mereka berdiri di bahu jalan. Ku rasa bersalah. Tapi itu yang harus ku korbankan.

Tepat beberapa menit sebelum isya' tiba kita berangkat. Menyusuri jalan beraspal dan sesekali mendahului truk-truk besar yang akan mengirimkan barang-barang bawaan mereka. Di simpang sebelum rel kereta api, ku salip truk-truk bulog, mungkin sekitar enam truk yang berjalan berdampingan, tak ku sadari ban motorku pecah, motor makin pelan dan makin berat. Aku menyingkir dari arena maut itu dan ku cari orang buka lapak tambal.

Setengah jam mungkin, ku ngobrol sama dua kawanku itu, nampaknya mereka juga cukup lelah dengan perjalanan ini. Jelas saja kita bertiga pakai motor dan motor kita bukan motor yang dirancang untuk perjalanan jauh. Satunya metik dan satunya motor lama yang mungkin umurnya lebih tua dari umur kita.

Ban sudah cukup kuat untuk menopang 50 kg ini. Kita lanjut perjalanan. Kali ini jalan yang kita hadapi bukan sembarang jalan. Lubang di sana sini. Tak tahu rupa bupati nanti setelah lewat ini jalan. Cuma ada dua pilihan, makin tampan atau minta ambulan.

Lubang mungkin jadi kendala utama, tapi masih ada kendala lain salah duanya adalah gelap tanpa penyinaran dan tak tahu arah jalan menuju perkemahan. Ya kali ini memang kita minta diundang di acara anak pramuka.

Satu jam berlalu dari mulai ku datangi dua temanku, kita akhirnya sampai di perkemahan. Sekitar beberapa puluh kilo dari pusat kota. Di sana ramai dengan cahaya telpon genggam yang dinyalakan dan dibuat gelombang. Setelahnya ada malam pentas seni, tempat unjuk gusi mereka, adik-adik kelas sepuluh.

Ku cari dia, ku tanyakan kemana, ku tanyakan kepada temannya. Di sana mas, jawab mereka. Mataku rabun, ini malam dan gelap, komplit rasa ku susah melihat rupanya. Tapi ku beranjak sepercayadirinya. Ku ke sana dengan sedikit terbawa inginku menemuinya, ku hadapkan wajahku ke seseorang. Tiba-tiba ku terkaget, karena orang itu bukan dia. Ku tanyakan kemana dia. Dan dia di belakangnya. Syukurlah dia ada.

Entah apa yang dia rasakan, mungkin senang, mungkin tidak percaya, mungkin juga tidak suka. Tapi ku tak berani bertanya respon dia tentang hadirnya aku secara mengejutkan.

Ku pindahkan tubuh ini, mungkin di timur laut hadapannya atau bisa juga di timurnya. Ku tanya sedikit. Karena rupa-rupanya dia sedang asyik latihan suara bersama rekannya untuk nomer tujuh penampilan kelas dia. Lagu yang mereka bawakan bisa dikatakan searah dengan keadaan hati dan pikiranku. Sudah tiga bulan ku tak sambang dia. Di bawah serbuk bintang ku ada di sana, dengan dia yang selalu ada. Malam dan indah.

Gilirannya tiba, ku hadapkan kamera ini ke mereka, di atas pentas sederhana. Seraya menghayati lagunya. Jelas lagu itu bukan dipersembahkan untukku. Apalagi aku yang tiba-tiba datang. Tapi ku bayangkan saja dalam anganku bahwa lagu itu dinyanyikan oleh dia dan benar-benar untukku. Tak yakin juga dia bisa rasakan.

Satu baris yang mungkin terngiang dalam pikiranku, satu baris yang mungkin kuharapkan esok terwujud, satu baris ini yang menggetarkan jiwaku,
"Ku akan tua dan mati dalam pelukmu.. Untukmu seluruh nafas ini.."
Ku merinding mendengarnya.

Tak lupa juga molen pisang itu ku berikan, mungkin tidak secara langsung karena dia masih di luar area kemah. Ku titip ke temannya. Ku hanya ingin dia tahu kalau aku di sini masih peduli dan tetap menjadikan dia impianku.

9thanniv 200612

Selasa, 03 April 2012

17th dan Sedikit Kisah

Hmm. Beberapa dekade lalu saya merayakan hari jadi saya yang ke 17th. Mungkin jauh lebih mudah ketimbang nenek saya dan masih lebih tua dibanding adik saya. 

Di ulang tahun yang ke 17th ini bisa dikatakan adalah ulang tahun penuh rasa dan cerita. Ya, kakek saya, satu-satunya kakek yang saya miliki setelah eyang putra meninggal, turut menyusul kepergiannya. Yang ajaib, kakek saya meninggal di tanggal dan bulan yang sama dengan tanggal kapan beliau lahir. Sudah, nanti jadi sedih.

Tapi sedikit cerita saja, sebenarnya seminggu atau 3-4 hari sebelum kepergiannya, saya mendapat firasat, mungkin sedikit gimana, sehingga saya enggan mempertegas firasat tersebut. Di hari-hari itu, rasanya saya ingin sekali pulang ke rumah kakek-nenek, untuk sekedar foto bersama dengan pose mencium pipi mereka, dan mereka mencium pipi saya.

Karena saya terhalang tugas dan kerjaan yang tidak kunjung padam, akhirnya saya urungkan niat itu. Menyesal? Sedikit. Tapi biarlah beliau pergi dengan tenang, di terima di tempat terbaik ALLAH SWT. Ammiieen. Oh ya, sebenarnya juga, di tanggal 13 Maret itu, kakek saya sudah mempersiapkan kepergiannya untuk menunaikan ibadah umroh bersama sang isteri tercinta dan putri satu-satunya, ibu saya.

Takdir berkata lain, dan akhirnya ibu saya umroh bersama tentangga karibnya.

Kembali, jauh-jauh hari, sebenarnya kakek saya sangat ingin melihat cucu laki-laki pertamanya mempunyai SIM.

I Love You, GrandPa. :)

Selasa, 21 Februari 2012

20 kg Harus Kemana?

Panik. Panik seribu panik. Panik sejuta panik. Panik setriliun panik. Dan panik sejumlah uang yang dibawa Nazarudin. Ini bener-bener gila. Gila bener-bener ini. Dan ini gila beneran. 

Besok (22/2) adalah seleksi tahap awal penerimaan peserta Paskibra Kabupaten. Dalam tahap ini, petugas-petugas yang akan menseleksi adalah peseta pasukan pengibar bendera di tahun sebelumnya. Ini memang dadakan. Bukan dadakan juga karena saya terlambat untuk menyiapkannya secara matang dan bersusah payah sebelum-sebelumnya. 

Ya, saya tertarik untuk mengikuti acara pembangkit jiwa nasionalisme ini. Bukan berarti sebelumnya saya tidak cinta Indonesia. Hanya saja akan jadi suatu poin + (plus) saat saya bisa masuk menjadi salah satu peserta berbadan 'tinggi' dalam pasukan pengibar bendera. Dibuatnya melting seketika.

Hal ini dilatarbelakangi oleh kejadian di tahun-tahun sebelumnya dimana sekolah saya selalu menempatkan kelas saya untuk dijadikan peserta upacara di Alun-Alun Kabupaten. Bulu kudu dan ketiak seketika merinding saat melihat proses demi proses, barisan demi barisan, formasi demi formasi pelaksanaan pengibaran bendera.

Dengan bangga saya melihat mereka, teman-teman saya. Mereka berkedudukan sempurna dideretan pasukan itu. Dengan berbungkus baju putih khas pasukan pengibar mereka menunaikan tugas mulia ini. Dan Proklamasi 17 Agusutus adalah puncak dari kesuksesan-kesuksesan mereka di hampir 1 semester sebelumnya berlatih.

Yang membuat saya panik adalah berat badan saya. Beberapa hari yang lalu saat pembacaan ikrar Duta Anti-Narkoba, saya tiba-tiba panik ketika harus dihadapkiri-kanankan oleh sang pemberi aba-aba. Saya sudah terlanjur lupa dengan perintah-perintah baris berbaris sewaktu masih di SMP. Bagaimana dengan nanti saat seleksi Paskibra? Panik (lagi).

Di saat pembacaan itu, saya melihat langsung melalui video, bahwasannya saya terlihat sangat flat, abnormal, terlalu tinggi, dan tidak ada yang bengkak (baca: lemak) di sana-sini. Oh, itu kah saya?

Pertanyaan seketika muncul dari teman saya yang bengkak, "Gimana sih cara ngurusin?". Pertanyaan terebut jelas akan bingung saya jawab. Atau jawabannya akan sama membingungkannya saat saya menanyakan, "Gimana sih cara ngebengkakin?". Jelas harus berputar otak 2x atau lebih dari 360 derajat untuk menjawab pertanyaan menyesatkan ini.

Secara de yure saya sangat ingin berpartisipasi dalam kegiatan rutin setiap tahun ini. Namun secara de facto, setiap tahun berat badan saya tetap atau malah berkurang dengan cekup deras(tis).

Dengan menggunakan rumus: 
Berat Badan Ideal = Tinggi Badan - 110.
Maka bisa dikorelasikan dengan saya menjadi:
Berat Badan Ideal = 185 - 110 = 75
Sedangkan berat badan saya saat ini 55 kg. 55 kg = Jauh dari Ideal. Dan itu berarti saya harus melakukan pencarian untuk sisanya, 20 kg.

Jika orang tidak berpikir, mungkin dia akan memakan temannya yang paling gemuk di kelasnya. Dengan berpikiran bahwa lemak-lemak yang ada di raga temannya akan berpindah secara difusi ke dalam susunan lemak terbatas yang dimilikinya.

Langkah yang sudah saya tempuh selama saya hidup untuk mendapatkan berat badan ideal:
1. Makan yang banyak setiap hari.
2. Berjalan lebih dari 10000 langkah setiap hari (Petugas Poskamling Sekolah Termuda).
3. Memakan makanan ringan (tidak harus kerupuk, emping, keripik dan sebangsanya) setiap ada rejeki lebih.
4. Tidak suka berolahraga.
5. Minum susu semaunya (terserah kapan).
6. Tidur selalu paling sering.
7. Makan jajan kantin paling banyak (termasuk jajan punya temen).
8. Minum kurang lebih 2L per hari.
9. Berdo'a agat dilimpahkan lemak secara ideal.
10. Bertukar pikiran dengan sesama kurus.
11. Berteman dengan orang 'berisi', dengan keyakinan berteman dengan sales parfum akan terciprat aromanya, maka jika berteman dengan orang berdaging akan terciprat dagingnya (bunuh diri).

Akhir kata, semoga saya bisa disegerakan mempunyai tubuh proporsional dan berat badan ideal. Dan semoga saya bisa masuk dalam pasukan pengibar bendera. Amin.

Sabtu, 21 Januari 2012

5 Pemuda Maroko Bakar Diri

5 pemuda Maroko bakar dirinya sendiri di depan pelataran sebuah gedung. Ini mengerikan karena cara mereka sangat sadis walau agak unik. Setahu saya tidak ada satupun demonstran di dunia yang pernah melakukan hal mengagumkan ini.

Pemuda ini menggelontorkan aksinya dalam rangka sunatan masal. Bukan.

Mereka melakukan ini karena mereka menentang kepengangguran para pengangguran kerja atau pemerintah yang belum bisa menyediakan lapangan pekerjaan lebih bagi rakyatnya, terutama pemuda yang masa hidupnya lebih lama daripada petua. (mungkin saja)

Pada saat berita ini tersiar via media elektronik tv maupun yutub, saya melihatnya dengan penuh kengerian. Ini gila. Membuat perut mual seketika. Di dalam hati saya hanya bisa berdo'a, "Semoga para pemuda ini benar dengan apa yang mereka pilih. Dan diterima di sisi Allah SWT."

Tak lama kemudian saya menerima kabar dari Umi (Umi yang tega melihat orang bakar diri berlari-lari) bahwa dari 5 pemuda itu 2 di antaranya menerima luka ringan dan lainnya terpaksa mengalami luka bakar parah. Ya Allah, semoga mereka sadar akan tindakan gila yang mereka lakukan. Semoga pemerintah menjadi sangat terharu dengan kegiatan ini. 

Paling penting, semoga pemuda-pemuda lainnya tidak mencontoh hal ini. Cobalah dimodifikasi dan berinovasi sebaik-baiknya. Atau rubahlah demontrasi anarkis dan ngeri menjadi suatu hasil karya yang terkenang.

Mohon jangan dilakukan di rumah ataupun di depan gedung PKK dan yang lainnya.

Ini adalah beban pemerintah dan penghantam HAM dunia. Indonesia jangan tertular ya.


Cara Mengatasi Malware

Alhamdulillah berkat saya yang terserang wabah Malware. Mungkin akibatnya memang sangat berlebihan dan keren sekali. Apalagi untuk saya yang bisa dikatakan tidak bisa facebooking tanpa facebook.

Untuk itu saya mempunyai usaha tersendiri dan termutahir untuk menuntaskan problema ini. 

Langkah pertama adalah dengan sharing ke teman-teman sebangku tentang keluhan yang saya terima dengan baik. Ngobrol-ngobrol dan menanyakan ini-itu, ternyata tidak kunjung menemui titik temu. Karena memang pada saat sekolah, jejaring sosial facebook diblokir sementara selama proses belajar dan dihajar.

Setelah kurang dapat memberi solusi jitu dan terlalu lama (Vierra), saya coba mengabarkan berita ini kepada teman saya yang notabene ketua IT di sekolah. Dia meminta alamat e-mail saya seraya mengeluarkan telepon genggamnya, mengetikkan e-mail saya dengan lancar di depan mushola sekolah.

2 jam saya tunggu, 3 jam, 1 hari dan tidak kunjung mendapat jawaban pasti. Saya frustasi. Tapi tak apalah, mungkin belum rejekinya.

Setelah itu saya coba menindak lanjutinya di ruang OSIS. Karena memang pertama kalinya saya memperoleh musibah ini di komputer OSIS. Saya coba cari solusinya disana. Dan untungnya ada kawan saya, adik kelas saya, Azam. Sepertinya dia adalah korban Malware juga. Sesama korban harus saling tolong-menolong.

Dia memberi tahu saya langkah-langkah cerdas yang bodoh tentang mengibaskan Malware ke luar facebook. Beberapa kotak dialog ini akan muncul pada saat Anda positif menjadi korban kebuasan Malware.

Setelah Sign In akan muncul seperti ini:
Klik aja 'Lanjutkan'.

Setelah terklik dengan gembira akan muncul seperti ini:
Klik aja 'Lanjutkan'.

Setelah terklik dengan sedikit emosional akan muncul seperti ini:
Centang  kotak yang tersedia dan klik aja 'Lanjutkan'.

Setelah tercentang dengan seksi akan muncul kotak dialog seperti ini:
Untuk kesekian kalinya, klik aja 'Lanjutkan'.
 Dan setelah itu cepat-cepatlah mengganti password facebook Anda, karena pada saat ini, akun anda rentan  dan sedang galau-galaunya terhadap hacker. (belum pasti juga)
Hindari tindakan mem-posting password Anda yang baru.
Karena itu tindakan bodoh dan menurunkan kuantitas pertemanan.

Dengan ini saya mengabarkan bahwasannya akun saya berhasil terlepas sempurna dari jeratan Malware.

Kamis, 19 Januari 2012

Malware

Aduh, apes. Sudah 2 hari ini Facebook saya terprivasi sendiri atau apa lah itu. Pada saat saya masuk, pasti akan ada kalimat:

Karena alasan keamanan, akun Anda dikunci untuk sementara

Your computer appears to be infected with a malware.
Entah mau bagaimana. Saya agak riskan kalau harus mengikuti perintah-perintah di sana. Bukan karena takut facebook alih kendali atau bagaimana. Yang saya takutkan malah bagaimana jika komputer saya terinfeksi bakteri dari akun jejaring ramah lingkungan ini.

Oh, semoga akun saya cepat kembali. Saya mengkhawatirkannya. Saya rindukan belaian indahnya. Menyayanginya sepenuh hati tanpa paksaan dan selalu ikhlas.

Biasanya kita selalu berdua. Menemani di kala lara. Penghibur di kala duka. Dan pemberi motivasi saat menderita. Oh, akun saya.

Terlalu banyak kenangan indah bersamanya. Tak terlupakan. Merindu.

Di saat kantuk tak kunjung datang, timeline cukup membuat mata pedas dan seketika itu tertidur pulas. Walau mimpi agak kacau, tapi tak apa lah yang penting mudah terlelap.

Di saat membuang 'itu', timelines yang berisikan kejorokan cukup mendukung saya mempercepat proses ekskresi. Amonia-amonia yang mengendap santai berjurai di dalam usus dengan mudah keluar. *ups
Semoga kembali dengan selamat sentosa, akun saya, Faiz Sutarsono.

Minggu, 15 Januari 2012

Pemerintah dan Sekelumitnya

Di akhir-akhir pemerintahan Pak Presiden tahun 2011, tiba-tiba dikabarkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun. Dari angka 85% pada Juli tahun 2010, kini semakin kisut dan nyungsep hingga jauh meninggalkan angka 85%.
Pasti banyak faktor yang mempengaruhi penurunan tingkat kepercayaan atau keoptimisan masyarakat terhadap pemerintah saat itu.
Contohnya adalah kasus LPG meledak. Setelah saya baca di internet-internet, ternyata bukan LPG yang ingin meledak, tapi rakyat yang sengaja mengganti petasan dengan tabung LPG mereka.

Sabtu, 07 Januari 2012

Hilang Harapanku, Hilang Liburanku

Pantas kah Anda kecewa di saat teman Anda berlibur namun Anda hanya bisa berdiam diri di rumah? Pantas.
Pantas kah Anda berlibur di saat teman Anda sudah masuk sekolah? Tidak Pantas.
Pantas kah Anda berlibur dan memutuskan untuk mengajak Bapak Bupati Anda? Bingung. Tapi sepertinya akan banyak ditraktir.

2 minggu liburan memang bikin depresi berat. Padahal ini yang paling saya tunggu selama 1 semester, tapi apa daya memang tidak mampu dan lagi lesu keuangan.

4 hari sebelum liburan habis, Abi mempunyai rencana untuk pergi ke Jember di hari kedua sebelum liburan usai. Saya pun hanya bisa mengiyakan. Karena memang rencananya mau mampir ke Gramedia. Lihat-lihat buku dan sebagainya.

Kalau diingat-ingat, tahun lalu adalah terakhir kalinya saya mampir Gramedia. Membeli satu buku Om Bob Sadiro, dll. 

Kembali ke Jember.

Mendengar kabar bahwa kita pergi berlibur untuk pertama kalinya dan sangat-sangat terlambat di liburan semester ini dengan menunggang mobil, saya exicited banget. Sepertinya akan tereksekusi dengan sangat menarik.

Keesokan malamnya, saya tidak bisa tidur. Saya memikirkan buku apa saja yang akan saya beli, kira-kira ke sana mengenakan kostum apa dan berapa uang yang harus saya ambil di bank. Tapi sejujurnya saya tidak punya ATM dan uang di dompet saya hanya tinggal 5 ribu perak. Untuk membayar parkir mobil saja mungkin sudah habis atau bahkan harus berutang dulu. 
Malam itu saya tidur jam 01.30 WIB.

Dengan mata berat, 4 jam kemudian saya terbangun. Entah ada roh halus atau tidak, saya pun memutuskan  untuk mandi. Ini jelas sekali jarang saya lakukan. Yang ada di pikiran saya adalah selesai ini saya akan membuang jauh-jauh kepenatan saat tidak berlibur di musim liburan ke Jember.

Setelah mandi selesai, tiba-tiba telpon rumah berdering. Saya terima telpon, dan eyang saya memulai pembicaraan di pagi ini. Beliau ingin sekeluarga pergi ke Pasuruan dan meminta agar membatalkan liburan ke Jember.

Oh my goat! Gedung pencakar langit yang susah-susah saya bangun semalam, tiba-tiba roboh terkena guyuran telpon rumah di fajar harinya.

Jadilah liburan saya hancur. Ini bukan liburan, bagi saya ini hanya lah sebuah dimensi waktu yang disediakan oleh Dinas Pendidikan untuk saya menganggur dan tercampakkan.

Jumat, 06 Januari 2012

Liburan Gagal

Seperti terungkapkan di atas. Ini nyata dan benar-benar tragedi maha dahsyat yang sering saya dapati. Lagi-lagi apa yang saya harapkan jarang bisa terwujudkan.

Jauh-jauh hari sebelum liburan, saya pengin menghabiskan banyak waktu di Bogor. Rencananya simpel, saya berangkat naik kereta api ekonomi dari stasiun terdekat dengan tetap ganteng dan turun dengan selamat di Bogor.

Di sini jelas saya tidak sempat memikirkan nasib saya di sana seperti apa. Yang ada di pikiran saya, saya tidak perlu membawa uang terlalu banyak (karena memang tidak punya uang) dan hidup nyaman di rumah tante Ely.

Terserah mau dibawa kemana (bertolak belakang sekali dengan Armada), yang penting bebas dari kata nganggur dan rumah. Diajak nganterin ke pasar buat belanja, Oke. Diajak mampir ke IPB, Oke. Mau dibawa ke Bandung buat ke Trans Studio, juga sangat Oke.

Intinya keinginan besar saya ini didasari atas perginya Evita ke Bandung. Itu sumpah bikin ngiri. Pengin nikmatin TS bareng lah, ngapain aja yang penting bareng. Berusaha membujuk Umi dan tante Ely. Tapi gagal. Semua gagal. Gagal total.

Akhirnya saya urung berlibur, saya pikir-pikir lagi, kalau saya kesana sendirian, yang akan mencuci baju dan segala jeroan siapa? Saya belum sempat berpendidikan Keterampilan Mencuci.

Kekesalan pun bangkit, tapi mau bagaimana lagi, daripada malah nyusahin orang lain dan nyusahin diri sendiri.

2 minggu diberi jatah untuk berlibur. Saya hanya bisa mengisinya dengan tidur, tidur, tidur dan tidur. Sesekali waktu nyari 'kerjaan' di OSIS. Dan banyak waktu digunakan untuk mengayomi adik-adik. Maklum Umi keluar kota, Abi kerja. Jadi semacam berlatih untuk menjadi orang tua muda.

Yang jelas liburan di rumah suram. Browsing dikira cuma bisa browsing, tidur dikira cuma bisa tidur, main dikira cuma bisa main, jajan dikira cuma bisa ngabisin uang, ..... Panas.

4 hari terakhir liburan, rasa sesal semakin menjadi-jadi saat melihat blog Evita yang penuh berisi foto-foto dokumentasinya sewaktu berada di Cirebon, Bekasi, Jakarta, Bandung. Oh, andai saya berada di sana dan tidak menganggur menghabiskan waktu untuk tidur di rumah.

Liburlah sebelum diliburkan.

Selasa, 20 Desember 2011

Di Saat Tidak Mengerti Ia Memberontak

Kisah ini berawal saat saya dan tim saya yang susah payah merencanakan suatu agenda besar memuat orang-orang besar selama dua bulan lalu diganggu atau bahkan dicerca dengan tidak berperikemanusiaan oleh pihak lain.

Terus terang saja saya sendiri kurang suka dan mulai fobia dengan dirinya yang tidak mengerti namun memberontak.

Agenda ini besar menurut kami. Karena melibatkan seluruh warga instansi kami dan juga warga di sekitar instansi kami. Kita merencanakan program ini jauh-jauh hari sebelum hari H atau bahkan H-5 bulan.

Kita kebingungan dalam menentukan orang-orang besar yang kami undang. Mungkin karena ketidakpastian dan ketidakmampuan kami dalam mempersiapkannya. Kita mencari orang-orang besar yang sekiranya bisa dan mengerti bobot acara yang kami susun.

Dan di saat semua telah ditentukan dan disetujui oleh instansi kami, ada suara sumbang yang ingin menggulingkan acara kami ini. Mungkin di benak mereka acara semacam ini adalah gagasan atau paksaan dari komunitas kami yang mungkin lebih rendah dari komunitas mereka. Yang jelas tujuan kami adalah untuk menampung dan memberi acara-acara yang berbobot untuk mereka.

Jelas saya terlibat langsung dengan perkara ini. Saya tahu pasti mengapa keputusannya seperti ini dan kemampuan kami seperti apa. Namun dengan bangganya dia memprotes, dia sudah nampak seperti dewa yang sewaktu-waktu dan seenaknya sendiri bisa merusak dan mengubah dunia.

Di hari-hari berikutnya ternyata komunitas dia mengundang perwakilan dari komunitas kami. Karena atasan ada kepentingan lain, jadi saya yang mewakili.

Acara belum dimulai, namun rentetan omong kosong dia memperburuk kondisi saya. Dia membicarakan dan menjelek-jelekkan acara kami. Padahal saya rasa dia tahu kalau perwakilan dari komunitas saya hadir. Saya berpikir, "Apa memang dibuat seperti ini?"

Seingat saya, komunitas kami tidak pernah punya masalah dengan komunitas dia. Dia punya acara, kami dukung, dsb.

Omong kosong dia membuat kepala saya panas. Rasanya ingin sekali meledakkan atau menyiram dia dengan air keras, tapi saya urungkan karena memang saya tidak mempersiapkan bom dan asam klorida.

Acara sudah berjalan satu setengah jam, saya pun pamit untuk pulang dengan alasan yang tidak jelas. Saya sudah tidak tahan dengan perlakuan dia. Saya khawatir jika saya tetap berada di komunitasnya, kejiwaan saya malah akan terganggu.

Demikian curahan kepala saya. Jika memang merasa dia adalah anda, maka berdiamlah dan berintropeksi dirilah sebelum lebih seenaknya sendiri dalam merendahkan orang lain.